Keamanan Cyber dan Ketergantungan Aplikasi Asing Jadi PR…

Keamanan cyber dan ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap
layanan dan aplikasi asing menjadi PR yang harus diselesaikan
pemerintah. Grafis/Istimewa

JAKARTA – Isu keamanan cyber
serta ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap layanan dan
aplikasi asing menjadi PR alias pekerjaan rumah yang harus
diselesaikan pemerintah. Apalagi pengguna internet di Indonesia
terus melonjak.

Hingga akhir 2016, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) mencatat ada lebih dari 132 juta pengguna
internet di Tanah air. Jumlah ini naik lebih dari 50% dibanding
2015.

Meningkatnya pengguna internet seiring semakin luasnya cakupan
internet yang diikuti makin terjangkaunya harga smartphone.
Gawai satu ini menjadi alat utama dari interaksi dan komunikasi
netizen di Tanah Air, khususnya lewat media sosial dan aplikasi
pesan singkat.

Kenaikan pengguna internet secara drastis juga diikuti beberapa
peristiwa terkait keamanan di dunia maya. Sebagai contoh,
selama 2016 ada masalah pada aplikasi GoJek, sehinga beberapa
kali ada peristiwa hilangnya saldo GoPay pengguna. Belum lagi
Yahoo yang diretas dan 1 miliar akun penggunanya terekspos oleh
pihak ketiga.

Hal tersebut dipaparkan pakar keamanan cyber Pratama Persadha
dalam keterangan tertulisnya kepada SINDOnews,
Sabtu (31/12/2106). Dia melihat semangat SDM lokal dalam
menghasilkan aplikasi dan layanan internet cukup besar. Namun,
perlu diperkuat dengan kesadaran untuk membangun sistem yang
aman pula.

“Tentu tahun 2016 adalah tahun pembelajaran. Aplikasi dan
layanan internet lokal harus membuktikan bahwa keamanan juga
menjadi perhatian serius. Karena itu tahun 2017 fokus pada
keamanan cyber akan meningkat tajam di semua sektor, terutama
perbankan yang mulai mengakrabi fintech,” ujarnya.

kaleidoskop
Masalah keamanan perbankan ramai sepanjang 2016. Setidaknya
beberapa peristiwa hilangnya uang nasabah menghiasi media-media
nasional. Pencurian dana nasabah di Batam dan Mataram
setidaknya kembali mengungkit betapa lemahnya keamanan sistem
ATM perbankan nasional hari ini.

“Setidaknya kartu yang masih menggunakan pita magnetik dan
mesin ATM yang masih memakai Windows XP adalah dua hal yang
paling mudah dimanfaatkan pihak ketiga untuk mencuri dana
nasbah,” jelas Pratama.

Menurutnya, pada 2017 pemerintah harus memperkuat regulasi
untuk memaksa perbankan melakukan updgrade sistem ATM demi
keamanan nasabah. Kartu ATM dengan pita magnetic rawan
pencurian data. Belum lagi mesin ATM berbasis Wnidows XP yang
sangat rawan karena tidak mendapat dukungan keamanan lagi dari
Microsoft.

“Migrasi ke kartu ATM berbasis chip harus dipercepat, begitu
juga dengan pembaharuan pada mesin ATM. Karena mesin ATM ini
menjadi pintu masuk para pencuri ini mengambil data nasabah,”
terang mantan pejabat Lembaga Sandi Negara ini.

dibaca 1.725x

Sb